Mencerahkan, Memberi wawasan

Awas Pedagang Burung

Waktu itusudah petang, angkutan umum seharusnya ramai dengan penumpang yang baru pulang kerja. Martha, mahasiswa salah satu universitas di kawasan Serpong, baru saja pulang kuliah dan ingin pulang ke rumahnya yang berada di dekat Pasar modern, BSD, Tangerang. Tanpa rasa takut, karena memang sudah biasa pulang dengan angkutan umum, Martha memasuki angkutan umum berwarna hijau.

Tanpa curiga, melihat sekelompok pria duduk di bangku pojok. Ada sebuah kantong yang dibungkus dan ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalamnya. Pria-pria itu terlihat tidak saling mengenal satu sama lain. Ada juga seorang remaja SMA yang sedang duduk dan sepertinya hendak pulang ke rumahnya. Tak lama kemudian seorang ibu menggunakan masker penutup hidung masuk.

Belum lama angkutan itu jalan, ibu yang baru saja masuk ke angkutan tadi tiba-tiba minta berhenti dan turun. Wajahnya sama sekali tidak menunjukan rasa takut, tetapi ketika menuruni angkutan tangannya menepuk paha Martha seakan memberikan kode. Martha masih tidak sadar. Ia tetap duduk menunggu angkutan sampai ke dekat rumahnya.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba salah seorang pria menyeletuk. Ia menawarkan sesuatu yang ia bawa dalam kantong yang dibungkus tadi. Katanya isinya adalah burung. Pria yang lainnya menyahut seakan ingin menawar dan bertanya-tanya. Saat itulah Martha mulai sadar. Salah satu temannya di kampus pernah bercerita tentang pengalaman buruknya menaiki angkutan umum.

Pengalaman yang Martha dengar adalah tentang transaksi jual-beli burung dalam angkutan umum. Temannya pernah mengalami semacam pemaksaan dari transaksi tersebut. Kejadian awalnya sama persis seperti yang baru saja didengar Martha ketika seorang pria menawarkan burung pada pria di sebelahnya. Motif tersebut katanya bukan motif baru dan sebenarnya bukan penipuan.

Kejahatan yang terjadi di angkutan umum bukan hal yang jarang terjadi, bahkan di kota-kota besar sudah menjadi hal yang biasa. Berbagai tindakan mulai dari kriminal hingga pemerkosaan sudah tersiar hingga media massa. Namun hal tersebut tetap terjadi meskipun dimodifikasi dengan motif yang berbeda.

Martha tersentak begitu mendengar percakapan tak wajar itu terjadi. Mereka yang seakan tak saling mengenal pada awalnya, kini mulai bercakap-cakap seperti hendak menawar harga burung tersebut. Beruntung, ketika mereka sedang sibuk bertransaksi, Martha mengambil kesempatan tersebut untuk turun dari angkutan menyelamatkan dirinya. Sayang, ia tak sempat memberitahu seorang remaja SMA yang juga berada di sana.

Tak tahu bagaimana nasib remaja tersebut. Ia tinggal seorang diri dalam angkutan itu di antara beberapa pria misterius yang melaksanakan transaksi bohong-bohongan itu. Yang terpenting Martha sudah selamat, tak terbayang jika apa yang terjadi pada temannya juga terjadi padanya.
Ketika itu, temannya sempat terpojok. Transaksi tersebut sudah sampai pada tahap tawar-menawar. Pria tersebut bersuara lantang seakan memancing penumpang lain untuk ikut terlibat dalam transaksi tersebut. Ada juga yang berpura-pura menyebutkan uang yang ia miliki seakan ingin membeli tapi uangnya tidak cukup.
Teman Martha yang juga seorang perempuan itu malah dipaksa untuk memberikan handphone yang ia pegang. Salah seorang remaja yang duduk di dekatnya ternyata sudah terkena paksaan dan menyerahkan handphone-nya pada salah seorang pria. Sungguh bukan hal yang wajar yang terjadi dalam angkutan umum.
Penasaran, saya mencoba klarifikasi kejadian tersebut pada supir angkutan umum yang suka mangkal di depan kampus. Pertanyaan saya langsung tertuju pada pengetahuan mereka tentang motif transaksi jual-beli burung di angkutan umum. Awalnya sekelompok supir tersebut tak ada yang menjawab, tapi tiba-tiba salah seorang supir orang Batak bercerita.
“Jadi awalnya ada laki-laki berpakaian rapi masuk dan duduk di samping supir. Nanti beberapa meter kemudian masuk beberapa pria dan mereka tampak gak saling mengenal. Nah, setelah ada penumpang lain masuk, baru mereka memulai transaksinya. Ini bukan penipuan, tapi ya seperti dihipnotis,” ujar supir yang mengaku pernah mengalami kejadian tersebut di dalam angkutannya.
Supir tersbeut mengaku tidak bisa berbuat apa-apa, sarannya hanya supaya penumpang berhati-hati dan tidak mengeluarkan handphone di dalam angkutan umum. Jangan juga terpancing percakapan atau sekedar melirik karena tertarik oleh suara burung yang kata supir tersebut hanyalah suara burung buatan dari salah-satu pelaku.
Kejadian tersebut bisa menjadi pengalaman untuk orang lain. Memang tidak bisa kita mencurigai orang begitu saja, tapi berhati-hati adalah hal yang paling penting ketika menaiki kendaraan umum. Hal ini yang sering luput dari perhatian masyarakat.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar