Mencerahkan, Memberi wawasan

Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Penjara Banceuy, Saksi Sejarah Yang Terlupakan

Penjara banceuy tempat pengasingan Bung Karno tahun 1930 ini merupakan sebuah saksi sejarah yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Kamar tahanan yang dibangun pada zaman penjajahan belanda ini terletak di jalan banceuy Bandung jawa barat, nampak berdiri kokoh meski sudah berumur cukup tua.

Walaupun banyak pejabat negara yang pernah berkunjung, namun tidak ada kepedulian dari mereka terhadap tempat sejarah ini. Perbaikan bangunan yang baru dilakukan pun didanai oleh donator setempat.Ahmad seorang penjaganya, mengaku bahwa dulu tempat ini tidak terawat sama sekali, pengabdiannya selama 27 tahunlah yang selalu menjaga tempat ini

Ketika tahun 1930 soekarno salah satu presiden pertama Indonesia, di asingkan dan ditahan selama delapan bulan di penjara banceuy.Pada masa penjajahan belanda itu soekarno dicurigai sebagai pemberontak sehingga pihak belanda menahannya di penjara ini. 

Di dalam kamar tahanan ini hanya disediakan fasilitas vispot untuk buang air kecil dan sumur dibagian luar yang sesekali digunakan soekarno untuk manndi.Kamar tahanan ini merupakan penjara sementara yang kemudian dipindahkan ke lapak suka miskin di jalan soekarno hatta.

Terdapat aura mistis yang kuat di tempat ini, ketika proses perbaikan dilakukan ada salah satu pengunjung yang mendapatkan potret sosok aneh didalam fotonya, sang penjaga Ahmad pun menuturkan bahwa tidak heran hal seperti itu terjadi.Pada bagian dalam kamar terdapat sebuah tulisan soekarno dan bendera merah putih yang diletakkan oleh penjaganya, 

karena dulunya hanya ruangan kosong, hal itu dilakukan untuk lebih menarik.
Waaupun tidak banyak orang yang mengetahui situs bersejarah ini, dan tidak ada kepedulian pemerintah sama sekali namun tempat ini tetap terjaga dan selalu terbuka untuk orang-orang yang ingin mengetahuinya.
Share:

Curug Cinulang, Objek Wisata Yang Terlupakan


Curug Cinulang adalah salah satu objek wisata yang menyuguhkan panorama air terjun yang berada di daerah Jawa Barat. Terletak di perbatasan kabupaten Bandung dan kabupaten Garut, Jawa Barat. Meskipun demikian, namun secara administratif curug cinulang terletak di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Bandung.

Objek wisata ini cukup mudah untuk dikunjungi, terletak sekitar 38 kilometer dari kota Bandung. Dari tol purbaleunyi kita tinggal berkendara ke arah Garut, tepatnya sebelum kita memasuki kawasan Nagrek, ada papan petunjuk tentang lokasi wisata Curug Cinulang.

Cukup menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer saja dari papan petunjuk tersebut. Namun untuk bisa sampai ke tempat tujuan wisata akses yang digunakan terbilang minim, tidak ada angkutan kota namun jangan khawatir kita bisa menggunakan ojeg meskipun masih terbilang jarang, maka dari itu dianjurkan sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi supaya bisa sampai ke tempat tujuan dengan mudah.

Angin sepoi-sepoi akan segera menyergap tubuh anda ketika berjalan menuju tempat wisata Curug Cinulang. Ya, kita akan disuguhi panorama alam pegunungan yang indah dan udara yang sangat sejuk, karena daerah menuju Curug Cinulang merupakan daerah pegunungan.

Harga tiket masuk terbilang sangat murah, cukup dengan membayar Rp.2000 kita sudah bisa masuk dan menikmati objek wisata Curug Cinulang, setara dengan harga parkir kendaraan bukan? Kurang lebih sekitar 100 meter dari loket, kita bisa melihat air terjun yang terdiri dari dua aliran, besar dan kecil. Aliran kecil merupakan pecahan dari air terjun utamanya.

Air terjun yang berasal dari sungai citarik ini terkenal dengan aliran air yang sangat deras karena memiliki ketinggian sekitar 50 meter, sehingga pengunjung tidak akan berani berdiri tepat dibawah air terjun tersebut. Biasanya para pengunjung hanya berenang disungai atau sekedar berfoto-foto sambil menikmati sensasi cipratan air yang di timbulkan air terjun itu.

Selain objek wisata air terjun, anak-anak juga bisa bermain di arena taman bermain yang letaknya berada diatas bukit seberang sungai citarik. Saking indahnya, objek wisata Curug Cinulang, musisi sunda Yayan Djatnika menciptakan lagu yang berjudul "Curug Cinulang".

Namun masih ada beberapa hal yang sangat memprihatinkan terkait objek wisata Curug Cinulang, yakni air yang keruh dan sampah yang menumpuk disekitar air terjun. Hal ini terjadi karena air sudah terkontaminasi oleh pedesaan yang terdapat diatas aliran sungai citarik tersebut, selain itu mushala yang terdapat di lokasi objek wisata terlihat kurang terurus.

Dalam hal ini perlu adanya perhatian pemerintahan setempat terkait pemeliharaan, dan peninjauan kembali supaya gairah sektor pariwisata kota Bandung kembali meningkat. Setidaknya masyarakat tidak akan melupakan objek wisata Curug Cinulang, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?
Share:

Endang, Sang Pria Nomaden Dari Cililin


Terik matahari yang menyengat kulit, tak jadi halangan untuk meneruskan pekerjaannya membuat alat-alat untuk kerangka bangunan dari kayu atau pun besi. Hanya sisa-sisa rasa lelah yang ada tergambar di raut wajah keriputnya, melangkah menuju warung di sudut kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang masih dalam proses pembangunan.

Sepiring nasi, segelas air teh manis hangat, bak surga bagi buruh bangunan yang sederhana ini. Begitu lahap menghabiskan makan siangnya Endang Saptaji (50) lelaki paruh baya asal Cililin, yang ditemui di sela waktu istirahatnya bekerja sebagai buruh proyek PT. Saluyu (25/3).

Sepak terjal angkuhnya roda kehidupan ini Endang lalui, tak hanya bekerja sebagai buruh bangunan yang telah dijalani dari tahun 1983, sampingan kerja sebagai supir Elf pun jadi pilihannya yang baru 20 tahun ini dilakoni untuk menyambung hidup.

“Trong...trang...., trong...trang...”! teriakan besi terdengar sangat riuh dikawasan proyek yang menandai telah dimulainya aktivitas pembangunan sekitar pukul 08.00, badanya yang kecil berusaha mengumpulkan tenaga untuk menyusun kerangka besi sehingga tetesan keringat pun bercucuran membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Bekerja banting tulang seperti ini harus mampu Endang lakukan sampai pukul 22.00 WIB.

 Endang diberi upah kotor sebesar Rp.50.000/hari dan dipotong untuk makan jadi upah bersihnya sebesar Rp.25.000/hari. Setelah 2 minggu bekerja, barulah diberi upah Rp.400.000 sehingga bisa pulang dan memberikan nafkah untuk anak dan istri. “Kalau lembur bisa dapat sampai Rp.700.000, saya cuma tamatan SD ya inilah kerja yang bisa saya lakukan untuk keluarga,” kata Endang.

Setiap keluarga menginginkan untuk selalu bersama, beda halnya dengan keluarga Endang. Siap tidak siap, keluarganya harus rela untuk ditinggalkan. Pekerjaannya yang nomaden menuntut Endang untuk pergi ke beberapa kota seperti Aceh, Cibubur dan kota lainnya sehingga proyek itu selesai.

Sangatlah berat, berbulan-bulan harus meninggalkan keluarga tercinta, rata-rata 3 bulan dan paling lama kerja selama 9 bulan waktu yang dihabiskan untuk bekerja baik itu di dalam kota atau pun luar kota.
Dari upah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Endang selalu berusaha untuk menyisihkan uang bagi pendidikan anak-anaknya. 3 anaknya yang kini masih menyenyam pendidikan di SMP dan SD membutuhkan biaya yang cukup banyak. “ Saya hanya bisa terus berusaha dan berdo’a, insya Allah rezeki itu akan datang dengan sendirinya. 

Keinginan saya tidak muluk-muluk, saya ingin melihat anak-anak bisa mengenyam pendidikan, sholeh dan bisa berbakti pada orang tua,” tutur Endang.
Share:

Awas Pedagang Burung

Waktu itusudah petang, angkutan umum seharusnya ramai dengan penumpang yang baru pulang kerja. Martha, mahasiswa salah satu universitas di kawasan Serpong, baru saja pulang kuliah dan ingin pulang ke rumahnya yang berada di dekat Pasar modern, BSD, Tangerang. Tanpa rasa takut, karena memang sudah biasa pulang dengan angkutan umum, Martha memasuki angkutan umum berwarna hijau.

Tanpa curiga, melihat sekelompok pria duduk di bangku pojok. Ada sebuah kantong yang dibungkus dan ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalamnya. Pria-pria itu terlihat tidak saling mengenal satu sama lain. Ada juga seorang remaja SMA yang sedang duduk dan sepertinya hendak pulang ke rumahnya. Tak lama kemudian seorang ibu menggunakan masker penutup hidung masuk.

Belum lama angkutan itu jalan, ibu yang baru saja masuk ke angkutan tadi tiba-tiba minta berhenti dan turun. Wajahnya sama sekali tidak menunjukan rasa takut, tetapi ketika menuruni angkutan tangannya menepuk paha Martha seakan memberikan kode. Martha masih tidak sadar. Ia tetap duduk menunggu angkutan sampai ke dekat rumahnya.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba salah seorang pria menyeletuk. Ia menawarkan sesuatu yang ia bawa dalam kantong yang dibungkus tadi. Katanya isinya adalah burung. Pria yang lainnya menyahut seakan ingin menawar dan bertanya-tanya. Saat itulah Martha mulai sadar. Salah satu temannya di kampus pernah bercerita tentang pengalaman buruknya menaiki angkutan umum.

Pengalaman yang Martha dengar adalah tentang transaksi jual-beli burung dalam angkutan umum. Temannya pernah mengalami semacam pemaksaan dari transaksi tersebut. Kejadian awalnya sama persis seperti yang baru saja didengar Martha ketika seorang pria menawarkan burung pada pria di sebelahnya. Motif tersebut katanya bukan motif baru dan sebenarnya bukan penipuan.

Kejahatan yang terjadi di angkutan umum bukan hal yang jarang terjadi, bahkan di kota-kota besar sudah menjadi hal yang biasa. Berbagai tindakan mulai dari kriminal hingga pemerkosaan sudah tersiar hingga media massa. Namun hal tersebut tetap terjadi meskipun dimodifikasi dengan motif yang berbeda.

Martha tersentak begitu mendengar percakapan tak wajar itu terjadi. Mereka yang seakan tak saling mengenal pada awalnya, kini mulai bercakap-cakap seperti hendak menawar harga burung tersebut. Beruntung, ketika mereka sedang sibuk bertransaksi, Martha mengambil kesempatan tersebut untuk turun dari angkutan menyelamatkan dirinya. Sayang, ia tak sempat memberitahu seorang remaja SMA yang juga berada di sana.

Tak tahu bagaimana nasib remaja tersebut. Ia tinggal seorang diri dalam angkutan itu di antara beberapa pria misterius yang melaksanakan transaksi bohong-bohongan itu. Yang terpenting Martha sudah selamat, tak terbayang jika apa yang terjadi pada temannya juga terjadi padanya.
Ketika itu, temannya sempat terpojok. Transaksi tersebut sudah sampai pada tahap tawar-menawar. Pria tersebut bersuara lantang seakan memancing penumpang lain untuk ikut terlibat dalam transaksi tersebut. Ada juga yang berpura-pura menyebutkan uang yang ia miliki seakan ingin membeli tapi uangnya tidak cukup.
Teman Martha yang juga seorang perempuan itu malah dipaksa untuk memberikan handphone yang ia pegang. Salah seorang remaja yang duduk di dekatnya ternyata sudah terkena paksaan dan menyerahkan handphone-nya pada salah seorang pria. Sungguh bukan hal yang wajar yang terjadi dalam angkutan umum.
Penasaran, saya mencoba klarifikasi kejadian tersebut pada supir angkutan umum yang suka mangkal di depan kampus. Pertanyaan saya langsung tertuju pada pengetahuan mereka tentang motif transaksi jual-beli burung di angkutan umum. Awalnya sekelompok supir tersebut tak ada yang menjawab, tapi tiba-tiba salah seorang supir orang Batak bercerita.
“Jadi awalnya ada laki-laki berpakaian rapi masuk dan duduk di samping supir. Nanti beberapa meter kemudian masuk beberapa pria dan mereka tampak gak saling mengenal. Nah, setelah ada penumpang lain masuk, baru mereka memulai transaksinya. Ini bukan penipuan, tapi ya seperti dihipnotis,” ujar supir yang mengaku pernah mengalami kejadian tersebut di dalam angkutannya.
Supir tersbeut mengaku tidak bisa berbuat apa-apa, sarannya hanya supaya penumpang berhati-hati dan tidak mengeluarkan handphone di dalam angkutan umum. Jangan juga terpancing percakapan atau sekedar melirik karena tertarik oleh suara burung yang kata supir tersebut hanyalah suara burung buatan dari salah-satu pelaku.
Kejadian tersebut bisa menjadi pengalaman untuk orang lain. Memang tidak bisa kita mencurigai orang begitu saja, tapi berhati-hati adalah hal yang paling penting ketika menaiki kendaraan umum. Hal ini yang sering luput dari perhatian masyarakat.
Share: